Kelompok KKN IK IAIN KUDUS Survey UMKM Kripik Tempe Ibu Jarmi Di Desa Tambahmulyo

Pati, 10 September 2021 – IAIN Kudus pada bulan ini mengadakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Terintegrasi Kompetensi di 4 Kabupaten, yaitu Pati, Kudus, Demak dan Jepara. Salah satu daerah Kabupaten Pati yang menjadi sasaran adalah Kecamatan Gabus. Kecamatan Gabus sendiri dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok Kecamatan Gabus 1 dan kelompok Kecamatan Gabus 2. Kecamatan Gabus 1 sendiri terdiri dari beberapa desa yaitu desa Kosekan, Sambirejo, Bogotanjung, Sugihrejo, Gabus, Tambahmulyo, Penanggungan, dan Gempol Sari.

Di wilayah Pati Selatan ini ada 18 desa yang mana memiliki banyak potensi yang dapat dikembangkan. Mahasiswa IAIN Kudus pada tahun ini melakukan kegiatan KKN IK di desanya masing-masing dengan mengangkat tema “ Pemberdayaan Potensi Desa Berbasis Moderasi Beragama” yang dilaksanakan tanggal 6 September sampai 6 Oktober 2021.

Mahasiswa KKN IK IAIN KUDUS 2021 melakukan KKN di salah satu desa di Kecamatan Gabus yaitu di Desa Tambahmulyo. KKN IK ini dilaksanakan oleh mahasiswa IAIN Kudus semester 7 yang bertempat tinggal di desa Tambahmulyo sendiri. Kebetulan 4 mahasiswa ini memiliki jurusan yang berbeda yaitu Nikmatuz Zahra dari Prodi PIAUD, Muhdhor Muhammad Shodiqin dari Prodi PAI, Annisa Nur Asrofah dari Prodi PGMI, dan Dicky Putra Anugria dari Prodi Ekonomi. Mahasiswa KKN IK IAIN Kudus siap mengabdi untuk memperdayakan potensi di Desa Tambahmulyo.

Mahasiswa KKN IK IAIN Kudus melakukan pendataan UMKM yang ada di Desa Tambahmulyo. Disini mahasiswa KKN IK IAIN Kudus mensurvey langsung dan mencari informasi tentang usaha apa yang sedang dijalani oleh masyarakat di Desa Tambahmulyo. Survey ini dilakukan ke beberapa tempat saja karena banyaknya masyarakat yang ada di desa Tambahmulyo sendiri, maka mahasiswa hanya melakukan survey dengan metode sampel per RT dan RW agar lebih efisien dan mudah dalam memperoleh informasi. Salah satu satu tempat yang menjadi sasaran survey ini adalah tempat produksi kripik tempe Ibu Jarmi yang beralamat di Desa Tambahmulyo Dukuh Jogan.

Berkat pelatihan pembuatan keripik tempe yang didapatkan sewaktu masih muda, mengantarkan Ibu Jarmi menjadi pengusaha keripik tempe yang beliau bangun dari tahun 1994 dan masih tetap eksis sampai saat ini.

Belum banyak varian rasa yang terdapat pada produk keripik tempe Ibu Jarmi ini, untuk masalah harga beliau membandrol produknya mulai dari harga Rp. 1000 – Rp. 5000/bungkusnya. Dan pada pemasaran, Ibu Jarmi memasarkannya di pasar Gabus tuturnya. Untuk biaya produksi sendiri biasanya melakukan peminjaman terhadap koperasi, untuk peminjaman sendiri biasanya mulai dari Rp. 500.000 tergantung jumlah produksi.

Salah satu hal yang kerap menjadi tantangan adalah harga dari kacang kedelai. Sebagai bahan dasar dari tempe dan keripik tempe, kenaikan harga kacang kedelai turut meningkatkan biaya operasional.

Saat ini, dirinya sudah memproduksi pesanan dari berbagai daerah bahkan dari luar kota. “Sisanya ya hanya dipasarkan dipasar lokal saja” tutur beliau.

Ibu Jarmi berimpian agar produk keripik tempe miliknya dapat semakin dikenal kalangan luas.
“Cita-cita saya biar produk saya ini meningkat. Karena produk kami higienis, renyah, gurih, dan bergizi. Mudah-mudahan bisa semakin dikenal dan khususnya bisa berkembang,” tutur Ibu Jarmi.

Narasumber: Ibu Jarmi

KKN IK IAIN KUDUS: Nikmatuz Zahra, Muhdhor Muhammad Sodiqin, Annisa Nur Asrofah, Dicky Putra Anugria.

Penulis: Pemdes

 

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan